KEADILAN TUHAN
Ulama Muslimin tidak sama pemahamannya terhadap IRADAH TUHAN (kemauan/kehendak Tuhan). Apakah kehendak Tuhan tersebut mutlak, tidak tunduk kepada norma-norma baik dan buruk, adil dan dzalim dan kebijaksanaan, ataukah tunduk kepada hal-hal itu semua.
Dengan perkataan lain, apakah perbuatan-perbuatan Tuhan dapat dipersamakan dengan perbuatan manusia ?
Aliran Asy’ariyyah mengatakan bahwa kehendak Tuhan mutlak, karena hanya Ia sendiri yang menguasai ala mini dan bisa berbuat sekehendakNya. Berhubung dengan itu , perbuatan-perbuatan Tuhan yang kelihatannya menyimpang dari ketentuan akal, tidak bisa dikatakan buruk atau dzalim, seperti member pahala orang yang jahat dan menyiksa orang baik/orang mi’min. dengan perkuatan lain, perbuatan Tuhan tidak bisa dipersamakan dengan manusia.
Aliran Mu’tazilah dan Maturidy sebaliknya mengatakan bahwa Perbuatan Tuhan dipersamakan dengan perbuatan manusia. Jadi ukuran baik dan buruk berlaku pada Tuhan. Dalam alam manusia kita mengetahui bahwa orang yang berbuat atau orang yang menolong kejahatan adalah orang jahat. Karena itu kejahatan tidak mungkin ada pada perbuatan Tuhan, senagaimana yang dinyatakan Tuhan sendiri baca Ali imran 182 Anfal 51,Yunus 44 dan lain-lain)
Berhubung dengan hal-hal tersebut di atas, maka persoalan yang akan dibicarakan di sini ialah
1. Kebijaksanaan Tuhan
2. Baik dan buruk menurut pertimbangan akal, keburukan di dunia,qadla dan qadar.
Persoalan-persoalan tersebut telah dibicarakan oleh :
1. Aliran Mu’tazilah,
2. Aliran Asy’ariyyah
3. Maturidy
4. Ibn Rusyd
MU’TAZILAH
Aliran Mu’tazilah mempunyai tafsiran khusus terhadap prinsip keadilan. Bagi mereka, semua perbuatan Tuhan bersifat keadilan semata-mata tidak ada satu perbuatan pun yang bisa dikatan salan satu dzalim.