.::Selamat Datang Di Blog Ini..Semoga Bermanfaat::.

Konsep keadilan Tuhan dan Perbuatan Manusia menurut Mu’tazilah dan Asy’Ariyyah

Selasa, 26 Juni 2012

KEADILAN  TUHAN
Ulama Muslimin tidak sama pemahamannya terhadap IRADAH TUHAN (kemauan/kehendak Tuhan). Apakah kehendak Tuhan tersebut mutlak, tidak tunduk kepada norma-norma baik dan buruk, adil dan dzalim dan kebijaksanaan, ataukah tunduk kepada hal-hal itu semua.
Dengan perkataan lain, apakah perbuatan-perbuatan Tuhan dapat dipersamakan dengan perbuatan manusia ?
Aliran Asy’ariyyah mengatakan bahwa kehendak Tuhan mutlak, karena hanya Ia sendiri yang menguasai ala mini dan bisa berbuat sekehendakNya. Berhubung dengan itu , perbuatan-perbuatan Tuhan yang kelihatannya menyimpang dari ketentuan akal, tidak bisa dikatakan buruk atau dzalim, seperti member pahala orang yang jahat dan menyiksa orang baik/orang mi’min. dengan perkuatan lain, perbuatan Tuhan tidak bisa dipersamakan dengan manusia.
Aliran Mu’tazilah dan Maturidy sebaliknya mengatakan bahwa Perbuatan Tuhan dipersamakan dengan perbuatan manusia. Jadi ukuran baik dan buruk berlaku pada Tuhan. Dalam alam manusia kita mengetahui bahwa orang  yang berbuat atau orang yang menolong kejahatan adalah orang jahat. Karena itu kejahatan tidak mungkin ada pada perbuatan Tuhan, senagaimana yang dinyatakan Tuhan sendiri baca Ali imran 182 Anfal 51,Yunus 44 dan lain-lain)
Berhubung dengan hal-hal tersebut di atas, maka persoalan yang akan dibicarakan di sini ialah
1.      Kebijaksanaan Tuhan
2.      Baik dan buruk menurut pertimbangan akal, keburukan di dunia,qadla dan qadar.

Persoalan-persoalan tersebut telah dibicarakan oleh :
1.      Aliran Mu’tazilah,
2.      Aliran Asy’ariyyah
3.      Maturidy
4.      Ibn Rusyd

MU’TAZILAH
Aliran Mu’tazilah mempunyai tafsiran khusus terhadap prinsip keadilan. Bagi mereka, semua perbuatan Tuhan bersifat keadilan semata-mata tidak ada satu perbuatan pun yang bisa dikatan salan satu dzalim.


Mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak memperbuat sesuatu perbuatan , kecuali ada tujuan dan hikamahnya. Perbuatan yang tidak bertujuan pada alam manusia dikatakan perbuatan ngawur.  Apatah lagi bagi Tuhan , tidak pantas sekali. Orang yang bijaksana ialah orang yang mengambil manfaat dari perbuatannya untuk dirinya sendiri atau memberi  manfaat kepada orang lain. Karena Tuhan tidak perlu mengambil manfaat untuk diri-Nya sendiri, maka perbuatanNYa dimaksudkan untuk member manfaat kepada manusia.
Jadi ala mini berjalan menurut tujuan yang telah ditentukan. Gerakan bintang, pergantian siang dan malam, gunung berapi dan bencana alam dan sebagainya, kesemuanya ada tujuannya, yaitu untuk kebaikan manusia di dunia.
Baik dan terbaik (salah dan aslah)
Karena Tuhan maha bijaksana dan maha adil, antaranya tidak mengerjakan sesuatu kecuali ada tujuannya, maka Ia tidak lain hanya menghendaki kebaikan manusia. Kalau kita melihat bermacam-macam keburukan dalam dunia ini dan kita tidak bisa mengetahui tujuannya (gunanya),maka tidak berarti bahwa Tuhan menghendaki keburukan-keburukan itu sendiri. Satu-satunya tafsiran ialah bahwa akal manusia tidak sanggup mengetahui semua sebab dan tujuan-tujuannya.
Baik dan buruk menurut pertimbangan akal :
Sebagai kelanjutan soal tersebut di atas , aliran mu’tazilah menetapkan bahwa sifat baik dan  buruk terdapat pada tiap-tiap perbuatan. Misalnya dusta mengandung keburukan-keburukan didalamnya. Karenanya Tuhan tidak mungkin dusta, karena dusta itu adalah buruk,sebaliknya Ia mesti jujur , karena jujur itu baik.
Kelanjutannya  ialah bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan sifat-sifat perbuatan yang dilarang atau diperintahkan. Menjaga jiwa dan harta diperintahkan. Karna perbutan itu baik,atau karna ada siat-sifat baik kepadanya. Sebaliknya membunuh dan mencuri dilarang karena perbuatan-perbuatan itu buruk. Tidak mungkin syara’ memerintahkan mencuri dan membunuh dan melarang pemeliharaan jiwa dan harta , karena syara’ tidak berdiri sendiri dalam mengeluarkan larangan atau perintahnya,tetapi hanya mengikuti sifat-sifat perbuatan. Dengan perkataan lain syara’ hanya mengabarkan baik atau  buruknya suatu perbuatan kemudian memerintahnya atau melarangnya, tetapi tidak menetapkan sifat-sifat tersebut.
Akal pun hanya mengetahui sifat-sifat tersebut, bukan menciptakan. Hanya diantara perbuatan-perbuatan itu ada yang segera diketahui baik atau buruknya tanpa pemikiran panjang, seperti baiknya menolong orang yang akan tenggelam dan buruknya mengingkari nikmat. Ada juga perbuatan yang baru diketahui sifat baik atau buruknya sesudah pemikiran panjang, seperti baiknya jujur yang berbahaya dan buruknya dusta yang berguna.
Golongan mu’tazilah mengatakan bahwa akal-lah yang menjadi ukuran norma akhlak sebelum datangnya syari’at; karena akal dapat membedakan sesuatu yang baik dari sesuatu yang buruk. Ketika datang syari’at, Ia tidak lain hanya menguatkan apa yang telah didapatkan oleh akal.
Keburukan didunia :
Soal keburukan didunia bertalian erat dengan soal-soal diatas. Suatu hal yang dimaklumi, bahwa menghendaki keburukan atau kedzaliman tidak sesuai dengan kebijaksanaan Tuhan dan keadilanNya. Tuhan menghendaki kebaikan karena perbuatan itu baik dan lebih baik untuk hambanya (lebih berguna). Sebaliknya Ia tidak menghendaki keburukan, karena perbuatan tersebut buruk dan berbahaya bagi hambanya. Sesuatu yang tidak dikatan baik dan buruk, ialah suatu perbuatan dimana Tuhan tidak menghendaki atau membencinya. Tetapi diserahkan kepada pertimbangan akal manusia semata-mata.
Karena itu Tuhan tidak menghendaki kekafiran untuk manusia, sebab kalau benar-benar Ia menghendaki, tentulah Ia tidak melarang kekafiran. Kalau kekafiran dan kemaksiatan dikehendakinya, tetntulah tidak perlu ada sisa dan tentu orang-orang kafir akan bisa beralasan bahwa Tuhan menghendaki demikian(kekafiran mereka). Tuhan menghendaki kebaikan dan petunjuk bagi semua hambanya dan memberikan jalan-jalannya. Tetapi manusi sendir dengan kehendaknya memilih segi-segi baik atau segi-segi buruk. Dengan demikian , barulah pahala dan siksa ada artinya.
ASY’ARIYYAH
Pendapat aliran asy’ariyyah tentang keadilan Tuhan didasarkan atas fikiran mereka tentang iradah(kehendak)Nya. Pendapatnya saling berlawanan dan banyak hal-hal yang sukar diterima akal. Disatu pihak mereka mengatakan bahwa Tuahan mengadakan kebaikan dan keburukan dan menghendakinya pula. Di pihak lai, mereka mengatakan bahwa baik dan buruk adalah gambaran fikiran (i’tibariyyah). Perbuatan-perbuatan  sendiri tidak mempunyai sifat-sifat baik dan buruk. Sumber baik dan buruk adalah syara’ semata-mata. Apa yang dikatan syara’ baik dan diperintahkan adalah baik, sebaliknya apa yang dikatakannya buruk dan dilarang adalah buruk. Jadi mereka mengatakan adanya baik dan buruk yang diadakan, tetapi tidak mengakui ada baik dan buruk yang berdiri sendiri.
Perbedaan mereka dengan aliran mu’tazilah jelas sekali. Aliran asy’ariyyah mengatakan bahwa Syara’lah yang pertama menentukan sifat baik dan buruk . Akal tidak campur tangan dalam soal ini. Kalau sekiranya syara’ memerintahkan bohong, tentulah bohong itu menjadi baik. Sebaliknya kalau sekiranya syara’ melarang jujur tentu kejujuran akan menjadi buruk. Segala kewajiban datangnya dari syara’ dan akal tidak dapat menetapkan suatu kewajiban. Aliran asy’ariyyah lebih tepat dinamakn aliran formalist.
Aliran asy’ariyyah mengemukakan 2 alasan :
a.       Kalau baik dan buruk berdiri sendiri dan terdapat pada sesuatu perbuatan, tentulah tidak berubah-rubah sifatnya, sedang kita melihat pandangan orang selalu nerbeda-beda, menurut perbedaan keadaan. Sekarang dipandangnya baik, besok dipandang buruk. Misalnya membunur orang adalah buruk, tetapi bisa menjadi baik apabila menjalankan hukuman qisas.
b.      Norma-norma akhlak (etika) adalah relatif, yang dapat berbeda-beda menurut perbedaan lingkungan dan agama. Norma tersebut tidak tetap, tetapi selalu berubah dan berkembang, karena norma-norma tersebut hanya bikinan manusia.
Pengaruh pembagian tersebut nampak pada aliran asy’ariyyah kemudian, ketika menyetujui sebagian pendapat mu’tazilah, yaitu dalam pembagian baik dan buruk menjadi 2 golongan,
a.       Absolut(mutlak) yang dapt dicapai akal, dan
b.      Relatif yang tidak bisa diketahui kecuali melalui syara’ .
Karena baik dan buruk tergantung dari syara’ disamping iradah Tuhan bersifat mutlak, maka Al-Asy’ary mengatakan bahwa perbuatan Tuhan bagaimanapun juga tidak bisa dikatakan buruk, meskipun seperti mengabadikan nabi-nabinya dineraka dan orang-orang kafir di surga, atau menyiksa anak-anak kecil. Perbuatan Tuhan diakatan adil juga, karena Tuhan bertindak dan berbuat dalam miliknya sendiri. 
QADLA DAN QADAR
MU’TAZILAH
Aliran Mu’tazilah membagi perbuatan manusia menjadi 2 bagian :
a.       Perbutan yang timbul dengan sendirinya, sperti gerakan refleksi dll.perbuatan itu jelas bukan jelas diadakan manusia atau terjadi karena kehendaknya.
b.      Perbuatan-perbuatan bebas, dimana manusia bisa melakukan pilihan antara mengerjakan dan tidak mengerjakan. Perbuatan semacam ini lebih pantas dikatakan diciptakan(khalq) manusia daripada diciptakan Tuhan, karena adanya alasan-alasan akal pikiran dan syara’.
Alasan-alasan akal pikiran :
1.      Kalau perbuatan itu diciptakan Tuhan seluruhnya, sebaimana akan dikatakan aliran Jabriyyah, maka apa perlunya ada taklif (perintah) pada manusia?
2.      Pahala dan siksa akan ada artinya, karena manusia tidak dapat mengerjakan baik atau buruk yang timbul dari kehendaknya sendiri.

ASY’ARIYYAH
Al-Asy’ary seperti mu’tazilah juga, membagi perbuatan manusia kepada dua bagian ,yaitu perbuatan yang timbul karena kehendak.
Dalam perbuatan macam kedua, manusia merasa sanggup mengerjakannya, suatu tanda bahwaia mempunyai kekuasaan (kemampuan/kesanggupan) yang dapat dipergunakannya. Kekuasaan ini didahului dengan kehendak(kemauan/iradah). Dan dengan kesanggupan inilah Ia mendapatkan perbuatan. Mendapatkan pekerjaan inilah yang dinamakan KSAB.
Bagaimana pengertian KSAB yang sebenernya ? Al-Asy’ary dan pengikut-pengikutnya mengatakan yang dimaksud dengan KSAB ialah “ berbarengnya kekuasan manusia dengan perbuatan Tuhan”.  Artinya apabila seseorang hendak mengadakan sesuatu perbuatan, maka pada saat itu juga Tuhan mengadakan (menciptakan) kesanggupan manusia untuk mewujudkan perbuatana tersebut. Dengan perbuatan inilah ia mendapatkan perbuatannya, tetapi tidak menciptakannya. (aliran mu;tazillah mengatakn menciptakannya (khalq)).
Akan tetapi pendapat Al-Asy’ary tersebut tidak juga mengakhiri persoalan qodla dan qadar. Kelemahan-kelemahan pendapatnya ialah:
a.       Sepintas lalu sudah jelas karena Al-Asy’ary telah menetapkan adanya kekuasan pada manusia , sebagai syarat utama terwujudnya pekerjaan dan yang menjadi dasar pertanggunganjawab baginya. Akan tetapi bukanlah kekuasaan manusia tersebut Tuhan yang mengadakannya? Kalau ada sebilah pisau yang sanggup memotong, sebagai syarat penting berlangsungnya pembunuhan, dipergunakan orang untuk membunuh, apakah pisau harus bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, ataukah orangnya yang mempergunakan ?
b.      Bagaimana hubungan antara dua kekuasaan, yaiutu kekuasaan manusia dan kekuasaan Tuhan, dengan pernuatan yang satu, yaitu perbuatan yang keluar dari manusia ? Al-Asy’ary mengatakan bahwa Tuhan dengan perbuatn manusia tersebut ialah pertakian mengadakan (menciptakan khalq).
Dengan adanya pembedaan antara dua kekuasaan tersebut dimaksudkan agar tidak sama nilainya terhadap terwujudnya perbuatan manusia. Sebenarnya bisa dikatan bahwa manusia juga mengadakan  (menciptakan/khalaq), meskipun berbeda isinya dari pengadaan Tuhan (penciptaanNya atau khalq) seperti sifat-sifat Tuhan yang lain, yang meskipun sama sebutannya, namun berlainan isi dan pengertiannya.
Ringkasannya Al-Asy’Ary mengatakan bahwa perbuatan manusia diciptakan Tuhan, bukan oleh manusia, yang terjadi ketika terdapat kekuasaan manusia dan kehendaknya, tetapi bukan sebagai akibat kekuasaan dan kehendak manusia tersebut. Jadi berbarengnya kekuasaan manusia dengan penciptaan (khalq) atau wujud perbuatan tidak berguna , selam tidak menjadi sebab wujudnya.
Dengan demikian, jelaslah ,bahwa fikiran Al-Asy’ary dalam soal qadla dan qadar termasuk aliran Jabriyyah, bukan lagi sebagai aliran tengah-tengah antara Jabariyyah dan Mu’tazilah.
Dalam memperkuat pendapatnya, Al-Asy’ary tidak mempergunakan ayat-ayat penguat adanya KASB yang diciptakannya itu, tetapi ayat-ayat penguat adanya KASB yang diciptakannya itu, tetapi ayat-ayat yang dipakai aliran Jabariyyah sebelumnya ,(sekurang-kurangnya ayat-ayat :
adakah pencipta selain Allah ? ”(Fathir 3).
apakah zat yang menciptakan sama dengan mereka yang tidak menciptakan ?”(An-nahl 17).
“bukankah mereka itu dijadikan dari tiada ? ataukah mereka itu menjadikan ? (At-Tur 35).
Akan tetapi ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak meniadakan sama sekali kesanggupan manusia mengadakan pebutannya, tetapi yang ditiadakannya ialah mengadakan dari tiada yang hanya dimiliki Allah semata-mata.
KESIMPULAN
Asy’ariyyah  :
a.       Dalam membuktikan adanya tuhan mereka menggunakan teori atom dan teori wajib-mumkin, teori-teori mana tidak memuaskan akal fikiran dan tidak sejalan dengan jiwa Syara’.
b.      Dalam soal keesaan, digunakan hipotese yang berlainan dengan hipotese yang ada dalam ayat keesaan (wahdaniyah).
c.       Pendapatannya tentang sifat yang mengatakan bahwa sifat lain daripada zat, mengandung persamaan Tuhan dengan manusia. Pendapat mereka yang mengatakan bahwa sifat bukan zat bukan pula lain dari zat, juga mengandung perlawanan.
Mu;tazilah
a.       Dalam soal wujud Tuhan dan keesannya sama dengan aliran aliran Asy’ariyyah, artinya tidak memberikan dalil yang memuaskan.
b.      Dalam soal sifat, yaitu bahwa sifat itu tidak lebih (lain) dari zat atau sifat itu hakekat zat, didasarkan atas prinsip tidak adanya persamaan Tuhan dengan manusia. Pendapat aliran Asy’ariyyah dalam soal sifat tersebut didasarkan atas prinsip persamaan Tuhan dengan manusia
c.       Perbuatan-perbuatan Tuhan adalah untuk kepentingan manusia. Karena itu Tuhan tidak mungkin berbuat dzalim ataupun menghendaki kezaliman.
d.      Manusia mempunyai kebebasan dan kesanggupan mengadakan perbuatan-perbuatannya. Karena itu sudah sepantasnya kalau diberi pahala atau siksa. Perintah-perintah dan larangan-larangannya masih dalam batas kesanggupan manusia.


TIF UIN SUKA
2012 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Pengikut

Waktu Sholat Kebumen

Pengunjung